Cara Tepat Mengajari Anak Pendidikan Seksual Sejak Dini

NgeblogNews.Com - Mengajari anak pendidikan seksual masih dianggap tabu oleh masyakarat umum. Padahal, pengajaran pendidikan seksual sejak dini merupakan hal penting yang bisa dijadikan benteng bagi anak dalam menjaga dirinya di kehidupan sehari-hari.

"Terdapat 3 fase dalam memberikan pendidikan seksual pada seseorang yaitu saat pra pubertas, pubertas dan pasca purbertas," tutur Peni Handayati, M.Psi di sela-sela acara Dokter cilik Award 2015 di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Senin (26/10/2015).

Dalam fase pra pubertas, seseorang akan lebih ditekankan pada peran wanita dan laki-laki dalam masyarakat. Kemudian, akan berbeda lagi ketika memasuki fase pubertas. Materi yang diberikan lebih pada penekanan dalam personal responsibility. Selanjutnya, pasca pubertas atau sebelum menikah, penekanan personal responsibility akan lebih besar lagi. Misalnya, dijabarkan bagiamana peran orang tua dalam keluarga.

Cara Tepat Mengajari Anak Pendidikan Seksual Sejak Dini
ilustrasi mengajari anakpendidikan seksual sejak dini / Foto: thinkstock

"Beberapa anak-anak di Indonesia telah mendapatkan konsep pendidikan seksual seperti di Sumatera dan Kalimantan. Tetapi masih banyak anak-anak dari daerah lain belum mengetahui tentang pendidikan seksual yang berbasis bukan biologis, tetapi lebih ke moral dan responbility-nya," lanjut Peni.

Ia mengatakan, pendidikan seksual pada anak bisa diberikan dengan cara pendekatan yang berbeda, disesuaikan dengan nilai-nilai yang akan disampaikan. Peni mencontohkan, misalnya materi bahwa pria dan wanita memiliki peran yang nantinya tidak sama. Untuk itu, perlu ditekankan jika wanita harus lebih menjaga dirinya sedangkan pria harus menghormati wanita dan tidak melakukan pelecahan seksual.

Pendidikan seksual sejak dini, lanjut Peni, diharapkan bisa menjadi benteng bagi setiap anak agar tidak melakukan hal-hal yang seharusnya memang belum mereka lakukan. Selain itu, anak-anak juga diharapkan mampu memproteksi diri dan lingkungannya agar terhindar dari pelecahan seksual.

"Apabila seseorang ingin menyentuh bagian privasi terutama anak perempuan, mereka harus berani bilang tidak. Namun, apabila si pelaku tetap memaksa minimal mereka harus berani untuk teriak. Kemudian, ketika ada seseorang yang menjadi korban pelecahan seksual, kita harus mengajak mereka agar mau sharing, tetapi tidak menghakiminya," tutup Peni.

Via Detik
Powered by Blogger.