Istri Jenderal Polisi Sekap dan Aniaya Belasan Pembantu

Sponsored Ad
Ngeblognews.com,Istri Jenderal Polisi Sekap dan Aniaya Belasan Pembantu - Belasan wanita pembantu rumah tangga (PRT) diduga menjadi korban tindak kekerasan dan penyekapan oleh majikan. Ironisnya penganiayaan dan penyekapan itu dilakukan oleh istri polisi berpangkat Brigadir Jenderal (Brigjen).

Majikan tersebut berinisial M, istri Brigjen (Pur) MS. Ihwal tindakan M sudah dilaporkan ke Polres Bogor oleh beberapa wanita yang mengaku menjadi korban penyekapan dan penganiayaan, seperti dilansir KoranKota, Kamis (20/2/2014).




Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Ronny F Sompie, Rabu (19/2/2014) sore mengatakan, Mabes Polisi sudah meminta petugas Polres Bogor untuk menangani laporan dugaan penyekapan dan penganiyaan oleh istri perwira tinggi polisi itu dengan profesional. Untuk itu, petugas Polresta Bogor diharapkan tidak takut untuk menegakkan hukum, meskipun kepada anggota keluar perwira polisi.

"Apakah ada hal yang perlu ditakutkan? Saya kira Polresta Bogor bisa melaksanakan tugasnya sesuai prosedur," jelas Ronny.

Sebelumnya, Kepala Polresta Bogor Ujang Bachtiar membenarkan adanya laporan mengenai penganiayaan dan penyekapan terhadap belasan wanita yang bekerja sebagai PRT di rumah pasangan M dan MS. Penyekapan dan penganiayaan diduga dilakukan oleh M di rumah mewahnya yang terletak di kawasan Tegallega, Bogor. Tindakan itu diduga sudah dilakukan selama beberapa bulan.

Menurut Ujang Bachtiar, laporan tentang ulah M itu disampaikan kepada petugas Polresta Bogor oleh wanita berinisial Y, salah seorang PRT di rumah M, ditemani beberapa kerabat PRT lainnya.

Sejauh ini, tambah Ujang, penyidik Polresta Bogor masih mendalami laporan itu. Penyidik masih menunggu visum dokter untuk menemukan luka dan penyebab luka yang dialami pembantu tersebut.

"Secara kasat mata memang tidak terlihat luka-luka. Namun, karena ada laporan tindak kekerasan, maka kami mintakan visum yang sampai sekarang belum ada hasilnya," kata Ujang.

Visum tersebut, jelas Bahtiar, dimaksudkan untuk memastikan ada dan tidaknya penganiayaan seperti yang dilaporkan Y.

Menurut Ujang, kepada petugas kepolisian Y mengaku sudah bekerja di rumah M selama tiga bulan. Ia mengaku mendapatkan makan dan jam kerja. Namun, Ujang menduga Y hanya tidak betah di rumah majikannya itu.

"Memang, dari sekian lama bekerja belum diberikan gaji, tetapi kan ada macam-macam persepsi, apakah belum digaji karena masih kerja dan belum selesai kontraknya, atau dikasihkan nanti kalau selesai masa kerja. Masih didalami semua itu," pungkas Ujang.

Disebutkan, Y yang berusia 18 tahun bisa keluar dari rumah majikannya setelah dijemput keluarganya. Berdasarkan pengakuan Y, selama bekerja berbulan-bulan ia dan rekan-rekannya tidak bisa dan tidak boleh keluar dari rumah itu
Powered by Blogger.